BAHASA GAUL TIDAK MEMBUAT GENERASI MUDA UNGGUL



Della kurnia Fauziah
STr  keperawatan Lawang Tingkat 1


Di era globalisasi sekarang, setiap orang dituntut untuk mampu bekompetisi. Tak heran jika masyarakat gencar melakukan aksi perubahan diri yang sesuai tren masa kini. Dampak modernisasi lebih terasa di kalangan anak muda yang notabenenya masih dalam masa pencarian jati diri. Tentu, para pemuda tak ingin menyandang gelar “kampungan” jika tak mampu menjadi anak “kekinian”. Demam “kekinian” menjangkiti hampir semua kalangan muda memberikan efek kurang baik bagi tabiat dan adab bertutur anak muda zaman sekarang. Tingkah laku yang ugal-ugalan, gaya berpakaian kebarat-baratan, serta penggunaan bahasa Indonesia yang dilafalkan seenaknya. Tak jarang para pemuda membuat istilah-istilah baru yang tentunya lebih familiar ditelinga para pendengar.
Sekarang bahasa Indonesia sebagai bahasa pemersatu bangsa telah diubah menjadi bahasa yang mungkin tak lagi merefleksikan Indonesia. Bahasa yang seharusnya dijunjung tinggi oleh para pemuda Indonesia justru diubah menjadi bahasa yang tak berbudaya. Para pemuda Indonesia malu menggunakan bahasa yang baik dan benar. Para pemuda Indonesia berlomba menciptakan bahasa-bahasa “kekinian” versi pemuda sendiri untuk mendapat predikat pemuda “gaul”. Tak jarang para pemuda meniru bahasa asing untuk digunakan sebagai bahasa sehari-hari. Tidak hanya untuk berkomunikasi antar sesama teman, namun bahasa “kekinian” tersebut setiap kali digunakan untuk berbicara kepada guru, dosen bahkan orang tua.
Oleh karena itu, penulis mengajak para pemuda Indonesia untuk kembali menggunakan bahasa Indonesia yang baik dan benar sesuai kaidah dan aturan. Penulis ingin menghilangkan anggapan bahwa bahasa Indonesia tidak “kekinian”. Bahasa tersebut justru membuat para pemuda lupa bahwa, bangsa Indonesia dipersatukan oleh bahasa persatuan, yaitu bahasa Indonesia. Jangan sampai para pemuda lupa jati diri para pemuda sebenanya, yang membuat para pemuda lupa di mana  pemuda Indonesia sekarang berada. Seharusnya para pemuda malu karena tidak menggunakan bahasa Indonesia dengan baik dan benar, karena banyak warga negara asing yang ingin tinggal di Indonesia dan belajar bahasa Indonesia dengan baik dan benar. Namun, para pemuda berperan sebagai warga dan generasi muda bangsa Indonesia justru malu menggunakan bahasa Indonesia dengan baik dan benar.
Melihat hal tersebut seharusnya para generasi muda Indonesia tunjukkan kepada dunia bahwa, para generasi muda Indonesia senantiasa bangga dan selalu menjunjung tinggi bahasa persatuan yaitu bahasa Indonesia. Oleh karena itu, seharusnya para pemuda Indonesia meninggalkan bahasa yang tidak baku, yang sering digunakan pada acara formal. Bahasa yang tidak baku (gaul) bukanlah cerminan bangsa Indonesia dan bukan pemuda yang menghormati para pahlawannya. Sebagai pemuda Indonesia buktikanlah kepada para pahlawan yang telah gugur dan kepada dunia bahwa para pemuda Indonesia selalu senantiasa menjunjung tinggi bahasa persatuan yaitu bahasa Indonesia.

Komentar