PENTINGNYA MAHASISWA MENJAGA POLA MAKAN UNTUK MENCEGAH GASTRITIS



Della Kurnia Fauziah
STr keperawatan lawang tingkat 1
della.fauziah13@gmail.com


Abstrak : kebanyakan masyarakat tidak mengetahui tentang penyakit gastritis, pada dasarnya penyakit gastritis termasuk suatu penyakit yang membahayakan bahkan bisa menyebabkan kematian. Gastritis adalah salah satu bagian lambung yang tepatnya adalah lapisan lambung yang mengalami iritasi yang mengakibatkan asam lambung meningkat, penyakit gastritis biasanya terjadi pada siapa saja. Minimnya pengetahuan masyarakat tentang penyakit gastritis tersebut menyebabkan rata-rata orang memiliki penyakit gastritis karena penyakit ini mudah muncul karena pola makan kita sehari-hari yang tidak teratur. Kebanyakan penyakit gastritis diderita oleh anak remaja karena mereka tidak dapat menjaga pola makan dengan baik. Maka dari itu masyarakat perlu memahami betul tentang penyakit gastritis agar mereka terhindar dari penyakit gastritis.

Kata kunci : gastritis,iritasi.

Pendahuluan
Kasus dengan penyakit gastritis merupakan salah satu jenis kasus penyakit yang umumnya banyak diderita oleh kalangan usia remaja, khususnya penyakit ini terjadi sangat meningkat pada kalangan mahasiswa. Gastritis adalah peradangan pada mukosa yang mengenai lambung yaitu suatu peradangan mukosa yang terjadi pada organ lambung yang disebabkan oleh suatu kuman helicobakteri pylori yang bersifat akut yang  Yang biasanya disebabkan oleh berbagai banyak faktor seperti misalnya tidak teraturnya pola makan dan gaya hidup yang salah serta meningkatnnya aktivitas sehingga mahasiswa tersebut tidak sempat untuk mengatur dan menjaga pola makan yang sehat dan malas untuk makan.

Definisi
Gastritis adalah peradangan pada mukosa yang mengenai lambung, yang mengakibatkan pembengkakan mukosa lambung hingga terlepas epitel mukosa superficial yang menyebabkan gangguan saluran pencernaan. “ pelepasan epital akan merangsang timbulnya proses inflamasi pada lambung ” Sukarmin (dalam Riyanto, 2016:3). Sedangkan menurut Merita, dkk (2016), gastritis adalah suatu istilah pada kedokteran untuk mengetahui suatu keadaan inflamasi jaringan mukosa pada sistem pencernaan pada lambung. Artinya penyakit gastritis tersebut sangat membahayakan dan menyerang bagian lambung.
Husnah (2012), usia muda adalah usia produktif,dimana tenaga,fikiran dan semangat sangat meningkat. Namun, seiring meningkatnya aktifitas pada usia ini sering tidak diikuti dengan gaya pola hidup sehat. Seperti pola makan sehat dan ,olahraga teratur dan pola tidur yang tidak tepat. Jadi penyakit gastritis mudah sekali menyerang. Frekuensi kebiasaan makan mahasiswa di Indonesia,sebagian besar mahasiswa makan 3 kali sehari dengan menu utama nasi, hanya 4 dari 16 orang mahasiswa yang tidak makan nasi, 3 mahasiswa minum susu dan kopi dengan roti merupakan kebiasaan dari kecil menurut (Surjadi, 2013).

Penyebab
Gastritis terjadi karena makan tidak teratur, yang mengakibatkan asam lambung meningkat dan menimbulkan permukaan lambung terkikis, sehingga menimbulkan semacam luka pada lambung (Muhith & siyoto, 2016). Sebaiknya manusia menjaga pola makan yang teratur serta memiliki kandungan gizi yang baik.
Menurut Almi (2013), Pemeriksaan penunjang telah terdapat di hemoglobin (Hb) 8,4 g/dl, hematocrit (Ht) 38,3%, leukosit 10.700, trombosit 182.000, serum glutamic oxaloacetic transaminase 23, dan serum glutamic pyruvic transaminase 24 U/L.

Faktor
Adapun beberapa faktor-faktor munculnya penyakit gastritis. Menurut Suparyanto (dalam sunarmi, 2018:62), faktor terjadinya gastritis karena pola makan tidak teratur sehingga lambung menjadi sensitif dan asam lambung meningkat. Jenis makanan penyebab gastritis yaitu makanan bergas serta mengonsumsi makanan yang pedas berlebihan juga dapat merangsang sistem pencernaan, terutama lambung dan usus untuk berkontraksi. Faktor etiologi gastritis lainnya adalah alkohol berlebihan (20%), merokok (5%), makan makanan berbumbu (15%), obat (18%) dan terapi yang ada radiasinya (2%). Faktor ini dipengaruhi pola makan, merokok, konsumsi NSAID dan kopi Anonimus (dalam Lestari, dkk, 2016:144).
Menurut Amrulloh & Utami (2016), patofisiologi kerusakan pada lambung dan usus dua belas jari akibat OAINS merupakan gangguan fisiokimia mukosa lambung dan inhibisi terhadap pelindung mukosa karena OAINS bersifat asam sehingga mempermudah trapping ion masuk mukosa dan menimbulkan terjadinya gastritis. Tanda dan gejala yang biasa terjadi mendadak biasanya ditandai rasa mual, muntah, nyeri, pendarahan, rasa lemah, nafsu makan dan sakit kepala. Gastritis merupakan klinis akut dengan tanda dan gejala khas, biasanya ditemukan inflamasi akut. Kurni (dalam Megawati & Nosi, 2014:709)

Pengobatan
Menurut Dipiro (dalam Wardaniati, dkk, 2016:66) pengobatan farmakologi gastritis untuk mengurangi asam lambung dengan menetralkan asam lambung mengurangi sekresi pada lambung dilakukan dengan cara memperkuat mukosa pada lambung dengan mengkonsumsi obat sitoproteksi.
Sedangkan pengobatan juga bisa dilakukan dengan menggunakan terapi non farmakologi  yaitu dengan memberikan terapi obat herbal seperti jamu berasal dari tanaman zingiberaceae seperti jahe, kunyit, temulawak dan terapi yang biasanya digunakan yaitu menggunakan kombinasi obat. (Widayat, dkk, 2018).
Penyakit gastritis jika di biarkan dan tidak di beri pengobatan bisa menimbulkan kekambuhan pada penderita gastritis dan bisa memberikan efek negatif terhadap kondisi kesehatan , seperti merusak fungsi lambung dan juga bisa meningkatkan resiko terkena kanker dan dapat menyebabkan kematian. (Wahyudi, dkk, 2018). Maka dari itu seharusnya kita lebih bisa menjaga pola makan dan gaya hidup sehat supaya terhindar dari penyakit gastritis dan apabila sudah mulai terjadi gejala-gejala gastritis sebaiknya segera berobat ke dokter supaya segera medapatkan tindakan yang tepat agar tidak menyebabkan kekambuhan gastritis yang angkut dalam lambung.



Prevalensi
Menurut Maulidiyah (dalam Gustin, 2011:3), prevalensi di kota Surabaya terdapat angka kejadian gastritis sebesar 31,2%, Denpasar 46%, sedangkan Medan diangka tinggi yaitu sebesar 91,6%. Sedangkan dari hasil studi penelitian wawancara pada pengurus suatu pondok pesantren An-Nashriyah Bahrul ‘ulum Tambak beras kota Jombang sekitar 15 orang santri pernah mengalami riwayat terkena penyakit pencernaan gastritis. (Lestari, dkk, 2018).

Penutup
Berdasarkan pembahasan diatas dapat disimpulkan gastritis adalah suatu peradangan mukosa yang terjadi pada organ lambung yang disebabkan oleh suatu kuman helicobakteri pylori yang bersifat akut yang disebabkan karena pola makan yang kurang sehat. Oleh karena itu seharusnya kita lebih bisa menjaga pola makan yang teratur supaya dapat mencegah penyakit gastritis pada lambung, selain itu sebaiknya hindarilah makanan-makanan yang bertekstur keras serta makanan yang pedas, asam, dan yang mengandung alkohol serta kebiasaan telat makan.  Maka dari itu sebaiknya masyarakat lebih bisa mengetahui dan menjaga pola makan agar terhindar dari penyakit pada lambung yaitu gastritis.


















Daftar Rujukan

Almi. 2013. Hematemesis Melena Et Causa Gastritis Erosif dengan Riwayat Penggunaan Obat NSAID pada Pasien Laki-Laki Lanjut Usia. Lampung: Medula Vol.1,No. 1:72-78.
Amrulloh, M.F. & Utami, N. 2016. Hubungan Konsumsi OAINS terhadap Gastritis. Lampung: majority. Vol.5,No. 5:18-21.
Gustin, R.K. 2011. Faktor-Faktor yang berhubungan dengan Kejadian Gastritis pada Pasien yang Berobat Jalan di Puskesmas Gulai Bancah Kota Bukittinggi. Bukittinggi: Artikel Penelitian. 1-12.
Husnah. 2012. Gambaran  Pola Makan dan Status Gizi Mahasiswa Kuliah Klinik Senior (kks) di Bagian Obsgyn RSUD dr. Zainoel Abidin Banda Aceh. Banda Aceh:  Kedokteran Syiah Kuala. Vol.12,No. 1:23-30.
Lestari, D.F. , Roni, F. Firdaus, M.H. & Astuti, W. 2018. Pengaruh Penyuluhan Terhadap Pengetahuan dan Perilaku Pencegahan Gastritis pada Santri PP. An-Nashriyah Bahrul ‘Ulum Jombang. Jombang: Well Being.Vol.3,No. 1:21-26.
Lestari, E.P. ,Wiyono, j. & Candrawati, E. 2016. Pola Makan Salah Penyebab Gastritis pada Remaja. Malang: Nursing News.Vol.1,No. 2:143-151.
Megawati, A. & Nosi, H. 2014. Beberapa Faktor yang Berhubungan dengan Kejadian Gastritis pada Pasien yang di Rawat di RSUD Labuang Baji Makassar. Makassar: Ilmiah Kesehatan Diagnosa. Vol.4,No. 6:709-715. 
Merita. Sapitri, W.I. & Sukandar, I. 2016. Hubungan Tingkat Stress dan Pola Konsumsi dengan Kejadian Gastritis di Puskesmas Pakuan Baru Jambi. Jambi: Akademika Baiturrahim. Vol.5,No. 1:51-58.
Muhith, A & Siyoto, S. , 2016.  Pengaruh Pola Makan dan Merokok Terhadap Kejadian Gastritis Pada Lansia. Mojokerto: Keperawatan. Vol.IX,No. 3:136-139.
Riyanto, A. 2016. Pendidikan Kesehatan dengan Metode Ceramah Untuk Meningkatkan Pengetahuan Keluarga dengan Gastritis. Surakarta: 1-11. 
Sunarmi. 2018. Faktor-faktor yang Berisiko dengan Kejadian Penyakit Gastritis di Poliklinik Penyakit Dalam Rumah Sakit muhammadiyah Palembang. Palembang: Ilmiah Multi Science Kesehatan. Vol.8:61-75.
Surjadi, C. 2013. Globalisasi dan Pola Makan Mahasiswa: Studi Kasus di Jakarta. Jakarta: Bagian Kesehatan Masyarakat dan Kedokteran Pencegahan, Fakultas Kedokteran UNIKA Atmaja. Vol.40,No. 6:416-421.
Wahyudi, A. , Kusuma, F.H.D. , Andinawati , M. 2018. Hubungan antara Kebiasaan Konsumsi Minuman Keras (Alkohol) dengan Kejadian Gastritis pada Remaja Akhir (18-21tahun) di Asrama Putra Papua Kota Malang. Malang: Nursing News. Vol.3,No. 1:686-696.
Wardaniati, I. A, Almahdy. & Dahlan, A. 2016. Gambaran Terapi Kombinasi Ranitidin dengan Sukralfat dan Ranitidin dengan Antasida dalam Pengobatan Gastritis di SMF Penyakit Dalam Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Ahmad Mochtar Bukittinggi. Bukittinggi: Farmasi Higea. Vol.8,No. 1:65-74.
Widayat, W. Ghassani, K.I. & Rijai, L. 2018. Profil Pengobatan dan DPR’S pada Pasien Gangguan Lambung (Dyspepsia, Gastritis, Peptic Ulcer) di RSUD Samarinda. Samarinda: Sains dan Kesehatan. Vol.1,No. 10:539-547.

Komentar